Bengkel Puisi Rendra Tribute untuk si Burung Merak
PEMBUNUHAN puisi oleh Orde Baru memaksa lahirnya strategi sastrawi baru: penggarapan tekstual yang menyamarkan kritik tajam dalam metafora dan simbolisme yang cerdas, atau sebalik-nya, frontal dan telanjang.
Munculnya strategi metafora dan simbolisme serta bahasa yang dibelokkan adalah pilihan eksistensial. Karena Tanduk Kekuasaan Orde Baru mengontrol makna literal, penyair harus menggunakan Strategi Metafora untuk bertahan. Puisi menjadi medan perang simbol yang cerdas:
"Burung" dan "Rajawali": Sering digunakan untuk melambangkan Kebebasan dan Jiwa yang Tak Terkekang (Rendra). Kekuasaan tidak dapat melarang sajak tentang burung, tetapi pembaca memahami bahwa burung itu adalah spirit perlawanan.
Rendra menggunakan keindahan estetika untuk menyembunyikan substansi sub-versifnya.
Karya-karya yang tampak hanya berisi refleksi keagamaan atau alam, seringkali berfungsi sebagai sarana untuk mencapai Hening Kontemplasi, tempat di mana kritik epistemik dan spiritual terhadap kekuasaan dapat dirumuskan tanpa terdeteksi. Ini adalah seni bela diri sastra —bersembunyi di balik keindahan yang tidak mencurigakan.
Gus Nas, Budayawan
| 236-2026-C1 | 811 FAU b C1 | Perpustakaan SDI Al Azhar 19 Sentra Primer (Rak Non Fiksi) | Tersedia |
Tidak tersedia versi lain